MENGUNJUNGI TIGA MASJID TUA DI KOTA SOLO

Mengunjungi Tiga Masjid Tua di Kota SoloDi bulan Ramadhan ini, masjid-masjid akan selalu ramai dikunjungi umat muslim yang beribadah. Masjid menjadi sebuah tempat ibadah yang sakral dan suci di bulan Ramadhan. Di Kota Solo terdapat tiga masjid tua yang menjadi cagar budaya, yaitu masjid Agung Solo, masjid Al Wustho Mangkunegaran, dan masjid Laweyan.

  1. Masjid Laweyan 

Masjid Laweyan atau Masjid Ki Ageng Henis didirikan pada tahun 1546 oleh Sultan Hadiwijaya atau yang dikenal dengan Jaka Tingkir yang saat itu berkuasa di Kerajaan Pajang. Desain arsitektur dari masjid tua ini merupakan hasil perpaduan budaya Hindhu –Islam. Masjid ini terletak di kampung batik Laweyan. Keunikan di Masjid Laweyan adalah adanya mata air sumur yang berada di sekitar kompleks masjid yang menjadi daya tarik pengunjung. Konon sumur tersebut muncul dari injakan kaki Sunan Kalijaga yang hingga saat ini airnya tidak pernah kering meskipun pada musim kemarau. Selain itu terdapat tumbuhan langka yaitu pohon Nagasari yang berusia lebih dari 500 tahun.

  1. Masjid Agung Surakarta

Masjid Agung yang terletak disebelah barat alun-alun utara merupakan masjid tua kedua di Solo. Masjid Agung dibangun oleh Sunan Paku Buwono III pada tahun 1763 dan selesai pada tahun 1768. Luas Masjid Agung serta bangunan sekitarnya  19.180 meter persegi yang dipisahkan dari lingkungan sekitar dengan tembok pagar keliling setinggi 3,25 meter. Masjid Agung identik dengan adanya  jam kuno yang masih berfungsi dan dua buah bedug besar yang menambah keantikan dari masjid ini.

  1. Masjid Al Wustho

Masjid Al-Wustho yang terletak di kawasan  Pura Mangkunegaran, tepatnya di Jalan Kartini, Kelurahan Ketelan, Kecamatan Banjarsari, Surakarta. Masjid Al-Wustho Mangkunegaran Surakarta dibangun pada masa Pura Mangkunegaran diperintah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (K.G.P.A.A.) Mangkunegara VII, antara tahun 1916 sampai 1944. Bangunan Masjid Al-Wustho dirancang oleh Thomas Karsten dan didirikan tahun 1878-1918, walaupun tampak sebagai arsitektur bangunan Jawa, namun masih terlihat banyak pengaruh gaya arsitektur kolonial. Luas kompleks Masjid Al-Wustho sekitar 4.200 m2, dengan batas pagar tembok keliling, yang sebagian besar muka berbentuk lengkung.

Masjid-masjid tua dan kuno peninggalan sejarah sebagai benda cagar budaya perlu kita lestarikan. Karena itulah saksi bisu keberadaan masa lampau yang tak pernah lekang oleh waktu.



      
  1. Pingback: PESAN LELUHUR MELALUI KINANG - Pusat Grosir Solo

  2. Pingback: Pesan Leluhur Melalui Kinang

Leave a Reply