MENELISIK MAKNA MALAM SELIKURAN RAMADHAN

Malam Selikuran RamadhanPada pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo pengaruh Islam di Mataram (1613-1645 M) semakin besar dimana terdapat perpaduan harmonis antara tradisi budaya Islam yang diwariskan oleh para wali dengan tradisi Hindu kejawen yang telah lama tumbuh dan hidup dalam masyarakat Jawa.

Salah satunya adalah tradisi menyambut malam Lailatul Qadar masyarakat Jawa menyebutnya malam selikuran, yaitu ritual pada malam-malam tanggal  ganjil pada sepertiga terakhir bulan Ramadan yaitu tanggal 21 , 23, 25, 27, dan 29 Ramadhan. Tak hanya Raja Sultan Agung yang melakukan malam selikuran, namun kedua kerajaan Keraton Kasunanan Surakarta dan Keraton Kasultanan Yogyakarta pun turut melestarikan tradisi malam selikuran.

Di Keraton Kasunanan Surakarta, setiap tanggal 21 Ramadhan dilakukan prosesi Hajad Dalem Selikuran. yang berupa arak-arakan para ulama keraton, sentana dalem, dan abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta membawa sesaji dari keraton ke Taman Sriwedari. Di sepanjang perjalanan yang ditempuh sejauh tiga kilometer, para ulama melantunkan shalawat yang diiringi rebana. Di barisan para abdi dalem Keraton Kasunana Surakarta yang membawa lampu ting / lampu teplok atau lampion warna-warni,  meneriakkan seruan tong-tong-hik yang bermakna seruan kebaikan.

Lampu ting merupakan simbol ketika Nabi Muhammad SAW menerima  wahyu Al – Qur’an di Gunung Nur, sehingga pada malam 21 Ramadhan seperti siang hari karena cahanya dari lampu ting. Kemudian arak-arakan dari Keraton Surakarta menuju Sriwedari adalah gambaran tentang para sahabat Nabi saat membawa obor untuk menyambut turunnya Nabi Muhammad SAW dari Gunung Nur sesaat setelah menerima wahyu.

Dahulu upacara ritual malam selikuran ini dilaksanakan di kupel Segaran Sriwedari yang letaknya di puncak bukit kecil di tengah kolam. Dimana  para ulama utusan Sunan Paku Buwono mengadakan kenduri dan memanjatkan doa dengan bahasa Arab dan bahasa Jawa, bagi keselamatan dan kesehatan Sunan, serta keselamatan keraton Kasunanan Surakarta, juga untuk keselamatan Indonesia. Kemudianhidangan kenduri yang ditata di dalam kotak-kotak kecil bernama ancak canthaka yang disantap bersama sambil tuguran.



      

Leave a Reply