Cialis 20mg Pas Cher cialis 20mg Kamagra 100 Suisse,kamagra 100,kamagra 100mg Avis,kamagra 100 Oral Jelly kamagra 100 kamagra gel,kamagra sverige,kamagra online kamagra online Viagra Kokemuksia,Viagra Netist? Kokemuksia,Naisten Viagra Kokemuksia viagra kokemuksia kamagra gel kamagra kaufen Levitra 10 Mg Kopen,levitra 10 Mg Ervaringen,levitra 10 Mg,levitra 10 Mg Bayer levitra 10 mg kopen Levitra Suisse,Levitra Compendium,Levitra 20 Mg levitra compendium

PESAN LELUHUR MELALUI KINANG

kinang__Dibunyikannya dua gamelan bersejarah peninggalan para Wali yang diberi gelar Kyai Guntur Sari dan Kyai Guntur Madu menandakan bahwa Sekaten telah di mulai. Tabuhan kedua gamelan yang melahirkan nada – nada elok nan mistis yang dimainkan secara bergantian di pelataran Masjid Agung KratonSurakarta. Ada hal yang menarik di sekitar pelataran Masjid Agung ini terdengar suara riuh dari deretan penjual kinang atau sirih. Deretan tersebut rata–rata adalah perempuan-perempuan lanjut usia yang mengantri membeli kinang. Kinang ini biasanya dijual bersamaan dengan endok amal atau telur asin dan kembang setaman. Mereka percaya bahwa dengan mengunyah kinang saat Gamelan Sekaten dibunyikan, akan membuat mereka tetap awet muda. Sehingga para pengunjung rela berdesakan agar bisa melihat dengan dekat gamelan Sekaten dimainkan sambil mengguyah kinang atau yang dikenal dengan istilah nginang.

Kinang merupakan racikan dari tembakau kering, kembang kanthil, daun sirih, gambir, dan injet (kapur sirih). Tradisi nginang sudah mengakar di hidup para perempuan Jawa sejak zaman dahulu. Kinang selalu hadir sebagai pengisi waktu luang dan untuk menemani obrolan-obrolan santai. Ada yang unik dari cara menikmati kinang, racikan daun sirih, injet dan gambir dikunyah di dalam mulut hingga merah. Kemudian tembakau kering dibulatkan dan diletakkan di bibir sehingga bercampur dengan cairan merah dari daun sirih, gambir dan injet tadi. Bunga atau kembang kanthil berfungsi mewangikan tembakau. Tidak ikut dikunyah tapi cukup diselipkan diatas telinga untuk mempercantik diri. Rasa pahit yang harus dirasakan saat mengunyah racikan kinang itu, berakhir dengan ketenangan dan kenyaman hati para penikmatnya.

Yang bisa dipetik dari kinang ini, bahwa para leluhur mengajari kita untuk tetap teguh dalam menghadapi kepahitan dan kegetiran hidup, dan menikmatinya dengan penuh penghayatan untuk mendapatkan kehidupan yang tenang dan nyaman. Wanita-wanita tua penjual kinang di sekaten, tanpa disadari mereka telah menjadi pecinta pelestari budaya yang tetap membawa pesan luhur itu ke dalam zaman modern saat ini. Mereka juga menghidupkan suasana tradisi perayaan Sekaten dengan berbagai nilai-nilai budaya luhur yang terkandung di dalamnya.



      

Leave a Reply