MOTIF WAHYU TUMURUN YANG SEMAKIN LANGKA

wahyu tumurun di sbcMotif Wahyu Tumurun pasti namanya sudah tidak asing lagi dikalangan penyuka batik klasik. Dikarenakan maknanya yang begitu sakral dan mendalam. Saat ini motif batik Wahyu Tumurun kembali digaungkan namanya ke publik. Melalui Solo Batik Carnival (SBC) yang memasuki pergelaran ke-7 pada 2014 ini, motif batik itu dijadikan maskot. Event tahunan Kota Solo tersebut, mencoba mengeksplor kekhasan Wahyu Tumurun tidak hanya melalui kostum-kostum yang dikenakan peserta, melainkan juga menjadikannya sebagai tokoh pendamai dalam pentas kolosal yang didapuk sebagai pembuka gelaran Solo Batik Carnival.

Ketua Solo Batik Carnival, Susanto, berharap dengan dijadikannya Wahyu Tumurun sebagai maskot SBC VII, warga Solo bisa mendapatkan wahyu dari Yang Maha Kuasa. Wahyu berupa dijauhkan dari rintangan dan senantiasa berada pada jalan yang terang. “Diangkatnya motif batik ini sebagai maskot SBC VII memang mengandung harapan agar masyarakat Indonesia, khususnya Solo, bisa mendapatkan wahyu. Dijauhkan dari rintangan dan senantiasa berada di jalan hidup yang terang,” jelasnya.

Wahyu Tumurun merupakan salah satu motif yang digemari oleh masyarakat. Pola-polanya melambangkan kehidupan yang bersemi nan indah. Bunga-bungaan atau tumbuh-tumbuhan, kerap dijadikan motif pengisi (dalam Bahasa Jawa disebut dengan isen). Pola-pola itu dijadikan isian pada motif utama yaitu mahkota terbang. Pola mahkota sendiri merupakan point of view dari batik Wahyu Tumurun. Pola ini terlihat menonjol. Sama seperti namanya, pola ini berbentuk mahkota, dengan desain tambahan berupa ayam atau burung yang berhadap-hadapan.

Kandungan filosofis dari mahkota terbang sangat tinggi. Sama seperti yang disampaikan Susanto, pola batik ini intinya mengajak para pemakainya untuk lebih berharap pada Tuhan, walaupun apa yang kita harapkan adalah hal-hal yang bersifat keduniawian seperti meraih kedudukan yang tinggi, ataupun pangkat. Namun tak ada salahnya jika kita berharap kepada Tuhan. Jika itu berhasil, maka Tuhan tak segan untuk memberi kita petunjuk, karunia, ataupun rahmat-Nya melalui sesuatu kebenaran yang terbaik untuk kita.

Batik Wahyu Tumurun sendiri sudah dikenal sejak 14 abad yang lalu, dimulai dari Yogyakarta. Sejak saat itu, persebaran batik ini mulai meluas. Seiring meluasnya perkembangan batik tersebut, motif yang ada disesuaikan dengan kondisi budaya masing-masing daerah. Contohnya seperti di Solo. Ketika di Yogyakarta, motif bercorak burung merak, lain halnya di Solo. Ketika Wahyu Tumurun masuk, Solo sedang mengalami persilangan budaya antara Jawa dengan Cina. Sehingga motif burung merak diganti dengan motif burung Phoenix.  Di kebudayaan Cina, Phoenix lebih dikenal dengan nama Fenghuang. Makhluk mitologi itu merupakan simbol dari kebajikan, kekuasaan, dan kemakmuran. Serta merupakan penggabungan antara konsep Yin (positif) dan Yang (negatif).

Karena kandungan filosofisnya yang begitu tinggi, adalah tepat ketika Solo Batik Carnival menjadikannya maskot. Selain mengajak masyarakat mengingat kembali seni budaya yang di dalamnya terkandung hakikat hidup, dari situ pula kita juga diajak untuk nguri-uri kabudayan jawa agar tetap lestari sebagai bukti kepada anak cucu kita.



      

Leave a Reply

*