MENYUSURI AURA PERJUANGAN DI KAMPUNG BATIK LAWEYAN

MENYUSUSRI AURA PERJUANGAN DI KAMPUNG BATIK LAWEYANKampung Batik Laweyan selama ini kita kenal sebagai salah satu tempat produksi kain batik. Kampung ini sudah eksis sejak tahun 1546, semasa pemerintahan Kerajaan Pajang pimpinan Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir). Ternyata dalam sejarahnya Kampung Batik Laweyan juga memilki cerita dimana tempat ini menjadi saksi perjuangan rakyat mengusir kolonialisme.

Pada masa penjajahan, Laweyan di kontrol ketat oleh Pemerintahan Belanda saat itu. Perekonomian disekitar kampung terebut sangatlah makmur karena produksi batiknya. Banyak lahir saudagar-saudagar kaya yang menjadi penyokong dana untuk merebut kemerdekaan.

Tahun 1911, Kiai Haji Samanhudi, yang dikenal sebagai saudagar paling dihormati di Laweyan membentuk Serikat Dagang Islam (SDI). Organisasi ini dianggap sebagai perlawanan melawan penindasan.

Tokoh pergerakan saat itu, Soekarno dan Hatta juga kerap berkunjung ke Laweyan. Soekarno, Hatta, dan tokoh politik lainnya banyak melakukan pertemuan-pertemuan untuk konsolidasi mengusir Belanda dari Tanah Air. Pemerintah Belanda yang kala itu tidak suka dengan aktivitas yang dibentuk rakyat, meneror kampung ini dengan berbagai cara.

Makmurnya perekonomian rakyat pada saat itu dapat dibuktikan dengan adanya bangunan-bangunan tua dengan temboknya yang menjulang tinggi. Jika kita berkunjung ke kampung Batik Laweyan, aura perjuangan juga dapat kita rasakan di kampung ini.



      

Leave a Reply